SECUIL KEBAHAGIAAN PAK
RIDHO
Reza Budi Berlianto
Aku adalah lulusan perguruan tinggi. Sama seperti
lainnya, aku membutuhkan pekerjaan, entah itu berwirausaha atau menjadi
pegawai. Dan saat ini aku memutuskan untuk menjadi pegawai saja. Mungkin
terlalu malas buatku berpikir usaha apa yang cocok untukku. Aku rasa jutaan
orang di Indonesia berpikiran sama denganku.
Saat ini aku sudah bekerja di perusahaan swasta
yang berada di Jakarta. Mungkin sebagian orang menginginkan pekerjaan ini, sama
seperti aku pada awal melamar pekerjaan ini.
Disana aku hanya duduk-duduk di kantor memandang layar komputer
berjam-jam menunggu email masuk dan membuat perijinan kerja. Sesekali aku
mengobrol dengan Office Boy atau
membuat minuman hangat hanya untuk mengisi kemonotonan pekerjaanku. Biasanya
tugasku menjadi lebih berat antara pukul 10 sampai pukul 1 siang karena saat
itu adalah saat dimana Direktur ada di kantor dan memberi tugas yang tidak
sedikit. Jadi bisa dipastikan pekerjaanku cukup santai. Bahkan selama bekerja
disana, aku tak pernah merasakan bagaimana rasanya lembur. Saat pulang, aku sengaja
mengulur waktu hanya untuk menghormati karyawan senior lainnya. Setelah semua
pulang, barulah aku mengemasi barangku (yang sebenarnya hanya tas berisi buku
catatan kecil dan sebuah alat tulis) lalu pulang menuju lokasi yang tak jauh
dari kantor sehingga cukup bagiku hanya untuk berjalan kaki.
Lokasi dimana aku tinggal merupakan lokasi
perkampungan Jakarta yang sangat padat. Meskipun demikian, sangat jarang sekali
di pusat perkantoran Jakarta masih ada perkampungan. Dan kampung inipun akan
segera digusur menjadi gedung perkantoran dan apartemen megah. Aku hanya tinggal
di dalamnya pada hari Minggu malam sampai Jumat sore. Selebihnya aku berada di
Bogor, tempat dimana aku menghabiskan waktu untuk kuliah. Disana lebih banyak
teman yang ku kenal.
Mengenai pekerjaanku ini, sejujurnya aku sudah
mulai bosan, jenuh, dan tidak menginginkannya lagi. Beratus-ratus keluh sudah
aku rasakan disini. Minimnya tugas yang aku dapat sangat membuatku bosan. Aku
merindukan kepadatan tugas yang kudapatkan saat kuliah. Yah, walaupun saat
kuliah dulu aku juga mengeluh karena terlalu banyak tugas yang dibebankan
kepada mahasiswa. Mengutuki dosen dan asistennya pun akhirnya tak lepas dari
kehidupan mahasiswaku. Memang, kalau dipikir-pikir aku hanya bisa mengeluh.
Selain pekerjaan, aku juga mengeluhkan kehidupan
di Jakarta. Ibu kota itu sangat padat, kumuh, macet, dan penuh polusi. Aku tak
suka dengan tempatku tinggal dan aku juga tak suka dengan kepadatan orang-orang
yang rela berdesakan berebut tempat di kereta. Tidak ada yang aku banggakan
bekerja di sana.
Meskipun sudah banyak keluhan yang aku rasakan,
tetap saja aku berada di sana dan tidak berani keluar dari dalamnya. Karenanya,
mulai saat itu aku merasa hidupku menjadi tidak sehat dan tidak teratur. Namun,
suatu saat semua itu berubah ketika aku bertemu dengan seseorang yang tidak
sengaja aku temui. Namanya Pak Ridho.
Saat itu aku sedang berada di kampung halaman
karena libur hari raya umat muslim. Aku berniat mencari udara segar. Ketika aku
mengambil motor ternyata aku mendapati ban yang bocor. Akhirnya dengan sangat
terpaksa aku tuntun motorku sampai ke lokasi tambal ban di pinggir jalan.
Berkali-kali aku mengeluh di perjalanan. Aku mengutuki cuaca yang saat itu
sangat panas sehingga cukup melelahkan membawa motor ini. Namun, aku bisa
bernafas lega saat aku sampai di tempat tambal ban. Saat itu sepi, hanya ada
aku dan tukang tambal ban itu sendiri. Dia berbadan agak kekar kehitaman khas
pekerja kasar diusianya yang menurutku sudah cukup tua. Dialah Pak Ridho, yang dengan
segera memulai pekerjaannya.
Sambil melihatnya bekerja, aku memulai percakapan
kecil.
“sudah lama bekerja
disini, Pak?”
“wah, sudah lama banget,
Dek.”
“koq sendirian aja Pak, nggak
ada yang bantuin?”
“hahaha... udah biasa gini,
Dek. Keluarga sibuk kerja yang lainnya. Yaah.. lumayan lah buat tambahan
sehari-hari”
Dari
situ mulailah Pak Ridho bercerita tentang keluarganya. Istrinya menjajakan
jajanan pasar keliling. Sesekali Bapak itu menceritakan bagaimana susahnya
menghidupi keluarganya. Namun, ada yang sangat menarik perhatianku sejak
pertama kali aku berbincang dengannya. Tidak ada satupun keluhan yang keluar
darinya. Sulitnya kehidupan lantas tidak membuatnya menyerah berpangku tangan
menunggu pengibaan orang lain. Bahkan dengan kondisinya saat ini, dia masih
sanggup membantu meringankan beban tetangganya yang saat itu mengalami
kebangkrutan usaha.
“Nggak usah nunggu kaya
baru bisa bantu. Kalau lebih ya sisihkan buat yang lain. Kalau g ada uang buat
bantu kan masih bisa nyumbang tenaga. Kalau masih g sanggup ya bantuin doa aja.
hehe.. Lagian semua yang kita punya itu titipan yang diatas, Dek.”
Aku
hanya mengangguk mengiyakan, lalu bertanya,
“Dulu kenapa Bapak mutusin
jadi tukang tambal ban, Pak?”
Sambil
tertawa Bapak kembali bercerita.
“Awalnya saya suka kasian
ngeliat orang-orang nuntun motornya gara-gara bannya bocor, apalagi kalo malem.
Suka g tega ngeliatnya. Akhirnya ya Bapak buka tambal ban. Lumayan, Bapak bisa
bantu yg lagi kesusahan di jalan. Sampe sekarang Bapak nggak pernah nyesel jadi
tukang tambal ban. Yang penting halal, ngerjainnya ikhlas, sukur-sukur bisa
bermanfaat buat orang lain.”
Aku hanya terdiam mendengar jawaban Pak Ridho. Ingin
rasanya aku bertanya apakah Pak Ridho bahagia bekerja seperti ini, tapi
sepertinya aku tak perlu jawaban saat melihat Pak Ridho bekerja. Dibalik baju
lusuhnya ternyata tersimpan sebongkah intan. Begitu murni dan mahal. Menyimpan secuil
kebahagiaan yang banyak didambakan banyak orang, orang-orang yang terobsesi
dengan kemewahan, tuntutan yang tak pernah ada habisnya, yang rela mengotori
jalannya untuk memenuhi kepuasan batin tanpa peduli satu sama lain. Naudzubillah.
Lalu, aku teringat kembali kehidupanku di Jakarta
sana. Ah, aku tak pantas mengeluh. Tapi, satu yang kini aku tau, sepertinya aku
lupa cara bersyukur. Tidak sepantasnya aku mengasihani Pak Ridho seperti yang
aku lakukan saat memandangnya pertama kali. Tidak, sangat tidak pantas. Akulah yang
pantas dikasihani. Terima kasih, Pak Ridho.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar