Rabu, 02 Juli 2014

SECUIL KEBAHAGIAAN

SECUIL KEBAHAGIAAN PAK RIDHO
Reza Budi Berlianto

Aku adalah lulusan perguruan tinggi. Sama seperti lainnya, aku membutuhkan pekerjaan, entah itu berwirausaha atau menjadi pegawai. Dan saat ini aku memutuskan untuk menjadi pegawai saja. Mungkin terlalu malas buatku berpikir usaha apa yang cocok untukku. Aku rasa jutaan orang di Indonesia berpikiran sama denganku.

Saat ini aku sudah bekerja di perusahaan swasta yang berada di Jakarta. Mungkin sebagian orang menginginkan pekerjaan ini, sama seperti aku pada awal melamar pekerjaan ini.  Disana aku hanya duduk-duduk di kantor memandang layar komputer berjam-jam menunggu email masuk dan membuat perijinan kerja. Sesekali aku mengobrol dengan Office Boy atau membuat minuman hangat hanya untuk mengisi kemonotonan pekerjaanku. Biasanya tugasku menjadi lebih berat antara pukul 10 sampai pukul 1 siang karena saat itu adalah saat dimana Direktur ada di kantor dan memberi tugas yang tidak sedikit. Jadi bisa dipastikan pekerjaanku cukup santai. Bahkan selama bekerja disana, aku tak pernah merasakan bagaimana rasanya lembur. Saat pulang, aku sengaja mengulur waktu hanya untuk menghormati karyawan senior lainnya. Setelah semua pulang, barulah aku mengemasi barangku (yang sebenarnya hanya tas berisi buku catatan kecil dan sebuah alat tulis) lalu pulang menuju lokasi yang tak jauh dari kantor sehingga cukup bagiku hanya untuk berjalan kaki.

Lokasi dimana aku tinggal merupakan lokasi perkampungan Jakarta yang sangat padat. Meskipun demikian, sangat jarang sekali di pusat perkantoran Jakarta masih ada perkampungan. Dan kampung inipun akan segera digusur menjadi gedung perkantoran dan apartemen megah. Aku hanya tinggal di dalamnya pada hari Minggu malam sampai Jumat sore. Selebihnya aku berada di Bogor, tempat dimana aku menghabiskan waktu untuk kuliah. Disana lebih banyak teman yang ku kenal.

Mengenai pekerjaanku ini, sejujurnya aku sudah mulai bosan, jenuh, dan tidak menginginkannya lagi. Beratus-ratus keluh sudah aku rasakan disini. Minimnya tugas yang aku dapat sangat membuatku bosan. Aku merindukan kepadatan tugas yang kudapatkan saat kuliah. Yah, walaupun saat kuliah dulu aku juga mengeluh karena terlalu banyak tugas yang dibebankan kepada mahasiswa. Mengutuki dosen dan asistennya pun akhirnya tak lepas dari kehidupan mahasiswaku. Memang, kalau dipikir-pikir aku hanya bisa mengeluh.

Selain pekerjaan, aku juga mengeluhkan kehidupan di Jakarta. Ibu kota itu sangat padat, kumuh, macet, dan penuh polusi. Aku tak suka dengan tempatku tinggal dan aku juga tak suka dengan kepadatan orang-orang yang rela berdesakan berebut tempat di kereta. Tidak ada yang aku banggakan bekerja di sana.

Meskipun sudah banyak keluhan yang aku rasakan, tetap saja aku berada di sana dan tidak berani keluar dari dalamnya. Karenanya, mulai saat itu aku merasa hidupku menjadi tidak sehat dan tidak teratur. Namun, suatu saat semua itu berubah ketika aku bertemu dengan seseorang yang tidak sengaja aku temui. Namanya Pak Ridho.

Saat itu aku sedang berada di kampung halaman karena libur hari raya umat muslim. Aku berniat mencari udara segar. Ketika aku mengambil motor ternyata aku mendapati ban yang bocor. Akhirnya dengan sangat terpaksa aku tuntun motorku sampai ke lokasi tambal ban di pinggir jalan. Berkali-kali aku mengeluh di perjalanan. Aku mengutuki cuaca yang saat itu sangat panas sehingga cukup melelahkan membawa motor ini. Namun, aku bisa bernafas lega saat aku sampai di tempat tambal ban. Saat itu sepi, hanya ada aku dan tukang tambal ban itu sendiri. Dia berbadan agak kekar kehitaman khas pekerja kasar diusianya yang menurutku sudah cukup tua. Dialah Pak Ridho, yang dengan segera memulai pekerjaannya.

Sambil melihatnya bekerja, aku memulai percakapan kecil.
“sudah lama bekerja disini, Pak?”

“wah, sudah lama banget, Dek.”

“koq sendirian aja Pak, nggak ada yang bantuin?”

“hahaha... udah biasa gini, Dek. Keluarga sibuk kerja yang lainnya. Yaah.. lumayan lah buat tambahan sehari-hari”

Dari situ mulailah Pak Ridho bercerita tentang keluarganya. Istrinya menjajakan jajanan pasar keliling. Sesekali Bapak itu menceritakan bagaimana susahnya menghidupi keluarganya. Namun, ada yang sangat menarik perhatianku sejak pertama kali aku berbincang dengannya. Tidak ada satupun keluhan yang keluar darinya. Sulitnya kehidupan lantas tidak membuatnya menyerah berpangku tangan menunggu pengibaan orang lain. Bahkan dengan kondisinya saat ini, dia masih sanggup membantu meringankan beban tetangganya yang saat itu mengalami kebangkrutan usaha.

“Nggak usah nunggu kaya baru bisa bantu. Kalau lebih ya sisihkan buat yang lain. Kalau g ada uang buat bantu kan masih bisa nyumbang tenaga. Kalau masih g sanggup ya bantuin doa aja. hehe.. Lagian semua yang kita punya itu titipan yang diatas, Dek.”

Aku hanya mengangguk mengiyakan, lalu bertanya,
“Dulu kenapa Bapak mutusin jadi tukang tambal ban, Pak?”

Sambil tertawa Bapak kembali bercerita.
“Awalnya saya suka kasian ngeliat orang-orang nuntun motornya gara-gara bannya bocor, apalagi kalo malem. Suka g tega ngeliatnya. Akhirnya ya Bapak buka tambal ban. Lumayan, Bapak bisa bantu yg lagi kesusahan di jalan. Sampe sekarang Bapak nggak pernah nyesel jadi tukang tambal ban. Yang penting halal, ngerjainnya ikhlas, sukur-sukur bisa bermanfaat buat orang lain.”

Aku hanya terdiam mendengar jawaban Pak Ridho. Ingin rasanya aku bertanya apakah Pak Ridho bahagia bekerja seperti ini, tapi sepertinya aku tak perlu jawaban saat melihat Pak Ridho bekerja. Dibalik baju lusuhnya ternyata tersimpan sebongkah intan. Begitu murni dan mahal. Menyimpan secuil kebahagiaan yang banyak didambakan banyak orang, orang-orang yang terobsesi dengan kemewahan, tuntutan yang tak pernah ada habisnya, yang rela mengotori jalannya untuk memenuhi kepuasan batin tanpa peduli satu sama lain. Naudzubillah.


Lalu, aku teringat kembali kehidupanku di Jakarta sana. Ah, aku tak pantas mengeluh. Tapi, satu yang kini aku tau, sepertinya aku lupa cara bersyukur. Tidak sepantasnya aku mengasihani Pak Ridho seperti yang aku lakukan saat memandangnya pertama kali. Tidak, sangat tidak pantas. Akulah yang pantas dikasihani. Terima kasih, Pak Ridho.

KEMELUT

KEMELUT

Teman, kemarilah. Aku punya cerita untukmu. Dengarkan aku. Tidak, jangan kau pandang air mataku. Aku lelaki. Tapi tak apalah. Tak penting lagi. Aku hanya manusia. Kau juga. Kita sama. Maafkan aku, tak sepantasnya kau melihatku seperti ini. tapi mengertilah, aku juga tak menginginkannya. Aku hanya kacau. Tidak, aku tak butuh nasehatmu. Terserah kalau kau mengasihaniku. Tapi ketahuilah, aku tak butuh dikasihani. Ya, duduklah. Duduklah disampingku. Hanya disampingku. Temani aku. Satu malam saja. Tak lebih. Terima kasih. Kau sangat baik.

.....

Sakit ini masih tersimpan. Tidak tampak, tetapi terasa. Sangat terasa. Bahkan menyesakkan. Tak bisakah dia rasakan? Tidak, dia tak bisa. Tak akan bisa. Bagaimana mungkin batu sepertinya akan melunak. Dan akupun tak akan peduli saat dia mencair sekalipun. Terlambat. Hanya bekas luka yang dia tinggalkan. Akan ku biarkan membusuk, menyisakan jejak yang akan ku ingat sampai kapan pun. Aku tak menginginkannya lagi.

Namun, Seandainya aku bisa melakukannya, ketahuilah, aku ingin. Pada kenyataannya aku hanya pecundang yang mengharapkan belas kasih yang (mungkin) tak akan pernah terbalas. Aku kalah. Bagiku, dia tak pernah pergi. Sampai kapan? Entahlah. Aku suka dengannya.

Terkutuk! Terkutuklah aku yang memelihara sakit ini, sakit yang bahkan membuatku tersiksa. Ulah siapa? Dia! Lantas kenapa aku pertahankan dirinya yang bahkan tak pernah mau menolehku lagi? Sekedar menyapa pun tidak. Tak ada kasih dalam dirinya. Aku tau. Semua orang tau. Terkutuk!

Ya, meskipun demikian aku pernah leleh. Leleh dari batuan keras yang bahkan aku beri pagar berduri di luarnya. Dia berhasil. Dia berhasil hingga tidak ada lagi aku dan dia. Hanya kami. Saling mengisi, saling memberi, saling berbagi, saling melengkapi, ah... itulah kami. Setiap detik bahkan aku ingat setiap jengkal dirinya. Kurasa aku merindukannya kembali.

Rindu? Ya aku memang rindu, tapi dia tidak!  Dia batu, dia pedang, dan dia apapun di dunia ini yang tak berhati. Dan tak berarti. Dingin, tajam, keras, dan tak peduli. Aku benci dirinya. Demi apapun aku akan membencinya. Ya, kau pun harus membencinya. Siapapun akan membencinya. Harus.

Tapi, tidak, aku membutuhkannya. Aku tidak akan melewatkan hari esok tanpanya. Aku takkan sanggup. Seharusnya dia masih disini, terjaga disampingku. Aku bersumpah tak akan aku palingkan wajah ini menatapnya. Aku hanya ingin pastikan bahwa dia tak akan pergi. Bila dia pun jenuh dan mulai berpaling setidaknya aku bisa berikan dekapan ini untuk menahannya.

Ah, persetan dengan dirinya. Aku tak akan rela memberi dekapan untuknya yang bahkan aku tau ada dekapan lain untuknya. Percuma mengasihinya. Kau tau, ya, hanya sia-sia. Dia iblis dan dia sadis, hanya singgah seenaknya. Kau pikir siapa dia? Enyah sajalah dia. Pergi dan jangan biarkan dia injakkan kakinya padaku. Biarlah dia pergi pada yang lain. Biarlah dia bersenang-senang tanpaku karena aku muak melihatnya. Sekali lagi aku tak menginginkannya. Enyahlah. Enyahlah!

.....

Teman, Aku lelah. Aku lelah seperti ini. Aku menyerah. Dia pernah berharga untukku. Begitu pun aku juga pernah berharga baginya. Biarkanlah tetap seperti ini. Past is in the past. Aku tetap menghargainya, menghargai pendiriannya. Dan aku akan tetap berjalan. Dengannya atau tanpanya aku akan melangkah penuh keyakinan, hingga batu keras berpagar duri ini akan kembali mencair. Mencair lebih jernih dan murni. Sangat indah.

Ya, kau benar. Terima kasih kau mau mendengarku. Aku bersyukur memilikimu, teman. Kau sangat baik.


***