KEMELUT
Teman,
kemarilah. Aku punya cerita untukmu. Dengarkan aku. Tidak, jangan kau pandang
air mataku. Aku lelaki. Tapi tak apalah. Tak penting lagi. Aku hanya manusia.
Kau juga. Kita sama. Maafkan aku, tak sepantasnya kau melihatku seperti ini.
tapi mengertilah, aku juga tak menginginkannya. Aku hanya kacau. Tidak, aku tak
butuh nasehatmu. Terserah kalau kau mengasihaniku. Tapi ketahuilah, aku tak
butuh dikasihani. Ya, duduklah. Duduklah disampingku. Hanya disampingku. Temani
aku. Satu malam saja. Tak lebih. Terima kasih. Kau sangat baik.
.....
Sakit ini masih tersimpan. Tidak tampak, tetapi
terasa. Sangat terasa. Bahkan menyesakkan. Tak bisakah dia rasakan? Tidak, dia
tak bisa. Tak akan bisa. Bagaimana mungkin batu sepertinya akan melunak. Dan
akupun tak akan peduli saat dia mencair sekalipun. Terlambat. Hanya bekas luka
yang dia tinggalkan. Akan ku biarkan membusuk, menyisakan jejak yang akan ku
ingat sampai kapan pun. Aku tak menginginkannya lagi.
Namun, Seandainya aku bisa melakukannya, ketahuilah,
aku ingin. Pada kenyataannya aku hanya pecundang yang mengharapkan belas kasih
yang (mungkin) tak akan pernah terbalas. Aku kalah. Bagiku, dia tak pernah
pergi. Sampai kapan? Entahlah. Aku suka dengannya.
Terkutuk! Terkutuklah aku yang memelihara sakit
ini, sakit yang bahkan membuatku tersiksa. Ulah siapa? Dia! Lantas kenapa aku
pertahankan dirinya yang bahkan tak pernah mau menolehku lagi? Sekedar menyapa
pun tidak. Tak ada kasih dalam dirinya. Aku tau. Semua orang tau. Terkutuk!
Ya, meskipun demikian aku pernah leleh. Leleh dari
batuan keras yang bahkan aku beri pagar berduri di luarnya. Dia berhasil. Dia
berhasil hingga tidak ada lagi aku dan dia. Hanya kami. Saling mengisi, saling
memberi, saling berbagi, saling melengkapi, ah... itulah kami. Setiap detik
bahkan aku ingat setiap jengkal dirinya. Kurasa aku merindukannya kembali.
Rindu? Ya aku memang rindu, tapi dia tidak! Dia batu, dia pedang, dan dia apapun di dunia
ini yang tak berhati. Dan tak berarti. Dingin, tajam, keras, dan tak peduli.
Aku benci dirinya. Demi apapun aku akan membencinya. Ya, kau pun harus
membencinya. Siapapun akan membencinya. Harus.
Tapi, tidak, aku membutuhkannya. Aku tidak akan
melewatkan hari esok tanpanya. Aku takkan sanggup. Seharusnya dia masih disini,
terjaga disampingku. Aku bersumpah tak akan aku palingkan wajah ini menatapnya.
Aku hanya ingin pastikan bahwa dia tak akan pergi. Bila dia pun jenuh dan mulai
berpaling setidaknya aku bisa berikan dekapan ini untuk menahannya.
Ah, persetan dengan dirinya. Aku tak akan rela
memberi dekapan untuknya yang bahkan aku tau ada dekapan lain untuknya. Percuma
mengasihinya. Kau tau, ya, hanya sia-sia. Dia iblis dan dia sadis, hanya
singgah seenaknya. Kau pikir siapa dia? Enyah sajalah dia. Pergi dan jangan biarkan
dia injakkan kakinya padaku. Biarlah dia pergi pada yang lain. Biarlah dia
bersenang-senang tanpaku karena aku muak melihatnya. Sekali lagi aku tak
menginginkannya. Enyahlah. Enyahlah!
.....
Teman,
Aku lelah. Aku lelah seperti ini. Aku menyerah. Dia pernah berharga untukku.
Begitu pun aku juga pernah berharga baginya. Biarkanlah tetap seperti ini. Past is in the past. Aku tetap
menghargainya, menghargai pendiriannya. Dan aku akan tetap berjalan. Dengannya
atau tanpanya aku akan melangkah penuh keyakinan, hingga batu keras berpagar
duri ini akan kembali mencair. Mencair lebih jernih dan murni. Sangat indah.
Ya,
kau benar. Terima kasih kau mau mendengarku. Aku bersyukur memilikimu, teman.
Kau sangat baik.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar